Assalamu’alaikum!
Kami mengabulkan permintaan
seorang teman, yang mana, adalah laki-laki, untuk menonton film yang dibintangi
Iqbaal (kami biasa menyebutnya Bale) dan Vanesha. Maka jadilah kami, malam tadi
di bioskop tercinta menyaksikan film tersebut.
Saya menulis review ini pagi
hari, setelah menontonnya semalam dan berkali-kali tersenyum kalau mengingat
dialog mereka. Tapi saya uploadnya baru hari ini, hebaaat bukan?
Saya sempat ‘ngece’ tentang
film bahkan sebelum itu, novelnya. Sajak-sajak romantis Pidi Baiq sebelum film
ini dibuat sudah mampir di beberapa platform. Banyak sekali yang
memperbincangkan baik di ask.fm, twitter, instagram, dan lain-lain. Padahal
saya belum pernah baca novelnya, maaf ya, ayah Pidi.
“Jangan rindu, berat. Kamu gak
akan kuat, biar aku saja.”
Tapi, keluar dari teater, saya
seneng sih nontonnya.
Siapa yang tidak kenal potongan
sajak tersebut? Gombalan goceng kalau kata Dilan dan Milea. Film yang cukup
membuat saya terperangah begitu empat orang bapak-bapak duduk di dua baris kursi
di depan kami. Sha-ik! Bapak-bapak aja nonton lho, bapak-bapak doang gak bawa anak
istrinya. Di tengah film ada anak kecil menangis, kirain ringtone ponsel. Tetapi lama-lama sering, oh ternyata ada yang
membawa anak kecil. Jadi, bukan hanya kami yang penasaran dengan film tersebut,
para orang tua juga. Mungkin mengingat masa-masa indah SMA sama istrinya, ya.
Film fenomenal yang sudah
banyak ditunggu-tunggu ini lahir dari sebuah novel yang tidak kalah
fenomenalnya hasil coretan tangan Pidi Baiq. Fenomenal kenapa? Kenapa ya, kalau
buat saya sih mungkin gara-gara isinya banyak sajak-sajak romantis yang tidak
biasa kita temui. Bukan yang kayak, “Bapak kamu tukang bunga ya? Pantesan
anaknya cantik kayak bunga,” atau yang “Roses
are red, violets are blue. My heart is full of love for you.” Bukan kayak
gitu pokoknya.
Dilan, yang saya tidak
belum tahu seperti apa dirinya di dalam novel, diperankan oleh Iqbaal
Diafakhri. Pemberitahuan bahwa novel Dilan 1990 akan dibuat dalam bentuk film
sangat menggemparkan, tetapi tidak sedikit yang kecewa bahwa Dilan diperankan
oleh Iqbaal, terutama yang sudah membaca novelnya pasti lebih mengenal dan bisa
memvisualisasikan Dilan sebagaimana mestinya.
Sedangkan lawan mainnya, Milea,
diperankan oleh Vanesha Prescilla.
Film yang disutradarai oleh
Fajar Bustomi ini diawali dengan sosok Milea dewasa yang sedang menceritakan
masa SMAnya di laptop. Berlatarkan Bandung, Milea merupakan anak murid pindahan
dari Jakarta. Pertemuan pertamanya dengan Dilan adalah saat pagi berangkat ke
sekolah, Milea yang berjalan kaki dihampiri oleh Dilan yang mengendarai motor
CB100. Dilan meramalkan bahwa nanti mereka akan bertemu di kantin.
Meskipun kenyataannya tidak.
Iqbaal, cowok yang lebih sering
dikenal imut di luar film ini, harus berakting menjadi anak badung. Ke sekolah
naik motor, tidak pakai helm pula (jaman dulu sekolah boleh bawa motor gak
sih?), tergabung dalam geng motor dan merupakan panglima tempur. Itu lho, yang
memimpin strategi tempur, kayaknya.
Setelah tragedi salah ramal,
Piyan, teman satu geng Dilan, datang ke kelas Milea untuk menyampaikan surat
yang ditulis Dilan—tetapi Piyan tidak mengatakan dari siapa surat itu dibuat.
Hal tersebut terjadi ketika Nandan dan Rani menanyakan kesetujuan Milea untuk
menjadi sekretaris kelas.
Nandan yang merupakan ketua
kelas di kelas Milea, berkesempatan besar untuk mendekati Milea. Mulai dari
menyusun denah tempat duduk sampai makan bersama di kantin sekolah.
Esok harinya, ketika Milea
mencuci sepatu, Dilan datang bersama Piyan. Memberikan undangan, tetapi
menyuruhnya untuk membacanya nanti. Isi undangan tersebut adalah mengundang
Milea untuk datang ke sekolah di hari Senin sampai Sabtu. Dilampirkan pula nama
Hamid Amidjaya, sang kepala sekolah.
Sampai di situ, Milea belum
mengetahui nama Dilan.
Milea sendiri sebenarnya
memiliki pacar di Jakarta, Beni namanya, yang diperankan oleh Brandon Salim.
Dilan membuatkan sajak romantis buatannya sendiri, tetapi Beni membuatkan sajak
romantis mencontek dari lagu ataupun puisi karya orang lain dari majalah.
Ketika upacara bendera, Milea
baru mengetahui nama dari cowok yang dari kemarin mengirimkannya surat.
Dilan.
Ketika Dilan dan dua temannya
diseret oleh Suripto, guru BP, karena tidak mengikuti upacara.
Dilan rela pulang sekolah naik angkot
demi bersama Milea.
“Milea, kamu cantik. Tapi aku
belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore,”
Sejak itu, Dilan mulai
mencintai Milea.
Suatu ketika, Dilan datang ke
kelas Milea dan duduk di sampingnya. Meminta secarik kertas kemudian menuliskan
lima nama orang yang menyukai Milea. Semua nama ditulis kecuali dirinya.
Hari demi hari, Dilan semakin
gencar mendekati Milea. Bermodal nekat, tidak nekat juga sih karena mungkin
karakter Dilan di sini adalah pemberani. Berbeda dengan Milea yang menurut saya
tidak berkarakter, hem lebih kayak mengalir mengikuti plot cerita.
Rasa suka Milea mulai terbaca
oleh Beni ketika cowok itu datang bersama teman-temannya ke rumah Milea untuk
memberikan kejutan ulang tahun. Saya sempat ingin tertawa melihat dandanan Beni
saat itu. Kemeja polos lengan panjang, celana jeans, dan rambut klimis. Lupa
kalau ternyata latar filmnya 1990.
Nandan turut memberikan kado
yakni boneka beruang besar yang katanya supaya bisa Milea peluk. Sedangkan
orang yang ditunggu-tunggu Milea hanya memberikan buku teka-teki silang, yang
covernya bergambarkan perempuan Jepang yang ditambahkan kumis dan jenggot di
wajahnya kemudian terdapat bullets di
sampingnya yang seolah menyampaikan pesan bahwa Dilan mengucapkan ulang tahun.
Semua lembar teka-teki silang sudah diisi dengan Dilan, saat membolak-balik
halaman, ada secarik kertas yang terjatuh.
Selamat
uLAng tahun, Milea.
Ini
hadiah untukmu, cuma tts.
Tapi
sudah kuisi semua.
Aku
sayang kamu
Aku
tidak mau kamu pusing
karena
harus mengisinya.
Setelahnya, alur cerita
berjalan manis di antara Milea dan Dilan.
Datang waktunya Milea bertemu
dengan Beni di Jakarta tepatnya di stasiun televisi TVRI sebagai tim pendukung
sekolahnya dalam lomba cerdas cermat. Beni mendapati Milea sedang makan berdua
dengan Nandan, padahal sebelumnya ada seorang temannya yang pamit ke toilet.
Tetapi karena Beni pencemburu dan bersumbu pendek, ia marah dan berujung pada
berakhirnya kisah cinta mereka.
Film mendekati waktu berakhir,
tetapi saya belum juga menemukan titik klimaksnya. Apakah ketika Beni marah dan
putus dengan Milea? Milea ingkar janji kepada Dilan untuk tidak pergi dengan
Kang Adi? Sumpah, saya bukan orang satu-satunya yang bilang begitu. Saya
beberapa kali melihat jam, memastikan bahwa film akan segera berakhir tetapi
kok belum ‘dapet’. Akhirnya aku minta spoiler sama temen berhubung dia sudah
baca novelnya.
Jadi di Dilan 1990 ini, mereka
jadian. Pada 22 Desember 1990, di depan warung Bi Eem. Setelahnya, film habis.
Tetapi bukan ending, karena masih ada
Dilan 1991 dan Milea 199x (asli tidak tahu karena belum baca novelnya).
Keseluruhan, alurnya
menyenangkan. Karena Dilan adalah sosok yang sangat mampu menghibur, mengingat
beberapa kali kami tertawa terbahak-bahak satu teater. Meskipun sekali lagi, saya
tidak menangkap adanya klimaks di sini. Mungkin karena ini ceritanya masih
panjang, jadi klimaks bukan di bagian yang ini, mungkin di Dilan 1991 atau di
Milea.
Chemistry di antara keduanya sangat
kuat, senang lihatnya, meskipun yang cowok awalnya tidak diharapkan oleh banyak
orang, tapi saya senang-senang saja.
Latar 1990, saya tidak tahu
seperti apa. Saya sendiri lahir tahun 1998, mungkin satu tahun setelah Milea
menikah. Tetapi dilihat dari rumah-rumah yang digunakan, settingannya cukup menjanjikan untuk memberi latar tahun tersebut.
Kalau gedung sekolah, terlihat jelas itu bangunan lama. Menurut saya, biasanya
kan kalau film lawas settingannya
agak diberi efek vintage atau yang
gelap-gelap gitu. Tetapi efek tersebut tidak nampak di film ini. Hanya saja ada
telepon umum, motor CB100 yang digunakan Dilan dan motor jadul yang dibawa
anggota geng motor, gaya berseragam murid, dan mobil-mobil yang sering terlihat
di kamera terutama mobil yang digunakan Bunda Dilan dapat memberikan gambaran
bahwa barang-barang tersebut berada di tahun 90an.
Dilan, bagi saya tidak
buruk-buruk amat. Mungkin jabatan panglima tempur geng motor dan hobinya yang
suka berantem yang mencoreng sifat baiknya. Menurut saya, dia cerdas. Kamarnya
penuh dengan buku-buku dan ia juga dipilih menjadi salah satu peserta lomba
cerdas cermat. Keberaniannya, mungkin jaman sekarang dikatakan kurang ajar.
Ingat di saat Dilan mengambil barisan di samping Milea saat upacara bendera dan
ditarik oleh Suripto. Yo, guys, jaman
SMP, saya sangat sering melakukan hal tersebut, dan beruntungnya guru-guru
tidak begitu peduli dengan anak-anaknya yang pikun ini.
“Siapapun dia, kalau tidak bisa
menghargai orang lain, tidak akan dihargai,”
“Guru itu digugu dan ditiru,”
Aku langsung sedih, teringat
ayahanda.
Mana ada murid yang berani
mencaci gurunya pengecut? Hanya di film ini.
Ini pelajaran untuk kita semua,
baik sebagai sosok murid ataupun guru. Amalkan selalu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Terlepas dari itu, hargailah orang lain kalau ingin dihargai. Semua dimulai
dari diri sendiri.
#MulaiAjaDulu
Lah iklan.
Ia juga pandai dalam menyikapi
cewek. Tidak seperti Anhar, yang dalam scene,
sempat menampar Milea di warung Bi Eem dan mengakibatkan adu jotos dengan Dilan
setelahnya.
Di dalam film ini juga
melibatkan ahjussi ganteng yang
seantero Bandung tahu, Bapak Ridwan Kamil. Pembuatan skenario film juga dibimbing
langsung oleh ayah Pidi Baiq.
Saya senang pokoknya. Iya,
soalnya saya suka-suka aja sama hal yang menye-menye kayak gini, sekadar untuk
menghilangkan bosan. Lebih baik nonton film yang bisa buat ketawa daripada buat
mikir, terutama di bioskop. Saya juga senang kalo dispoilerin, hahaha. Makanya
ketika saya heran mikirin klimaks dan endingnya
gimana, saya tanya teman yang sudah baca novelnya.
Ayo, nonton. Ajak semua
keluarga kamu, teman, sahabat, dan lain-lain, tapi jangan ajak mantan, ya.
Nanti kamu sedih, tragis, kalau kisah kamu sama kayak Dilan dan Milea di
penghujung buku (iya, yang ini juga dikasih tahu sama teman).
Teman saya yang spoilerin itu,
juga nonton bersama mantannya (iya dong, kan kami satu kumpulan hahaha). Di
rumah, dia bilang sama saya, “Coba tadi aku buat instastory, tulis deh “Dia Dilanku 2011”
Kita tidak beda, Fa, saya sama
pusingnya di tengah-tengah film membayangkan wajah Dilan yang memang mirip
seseorang. Nyatanya ia pernah
dipanggil dengan sebutan nama asli pemain Dilan saat ia SMA.
Iya, sudah, begitu saja kok.
Terima kasih Dilan, telah
membawa Bandung kembali untuk malam ini.
No comments:
Post a Comment