September 09, 2018

Dilan 1990 x Dilan 2011

Assalamu’alaikum, jangan?
Assalamu’alaikum!

Kami mengabulkan permintaan seorang teman, yang mana, adalah laki-laki, untuk menonton film yang dibintangi Iqbaal (kami biasa menyebutnya Bale) dan Vanesha. Maka jadilah kami, malam tadi di bioskop tercinta menyaksikan film tersebut.
Saya menulis review ini pagi hari, setelah menontonnya semalam dan berkali-kali tersenyum kalau mengingat dialog mereka. Tapi saya uploadnya baru hari ini, hebaaat bukan?

Saya sempat ‘ngece’ tentang film bahkan sebelum itu, novelnya. Sajak-sajak romantis Pidi Baiq sebelum film ini dibuat sudah mampir di beberapa platform. Banyak sekali yang memperbincangkan baik di ask.fm, twitter, instagram, dan lain-lain. Padahal saya belum pernah baca novelnya, maaf ya, ayah Pidi.

“Jangan rindu, berat. Kamu gak akan kuat, biar aku saja.”

Tapi, keluar dari teater, saya seneng sih nontonnya.

Siapa yang tidak kenal potongan sajak tersebut? Gombalan goceng kalau kata Dilan dan Milea. Film yang cukup membuat saya terperangah begitu empat orang bapak-bapak duduk di dua baris kursi di depan kami. Sha-ik! Bapak-bapak aja nonton lho, bapak-bapak doang gak bawa anak istrinya. Di tengah film ada anak kecil menangis, kirain ringtone ponsel. Tetapi lama-lama sering, oh ternyata ada yang membawa anak kecil. Jadi, bukan hanya kami yang penasaran dengan film tersebut, para orang tua juga. Mungkin mengingat masa-masa indah SMA sama istrinya, ya.

Film fenomenal yang sudah banyak ditunggu-tunggu ini lahir dari sebuah novel yang tidak kalah fenomenalnya hasil coretan tangan Pidi Baiq. Fenomenal kenapa? Kenapa ya, kalau buat saya sih mungkin gara-gara isinya banyak sajak-sajak romantis yang tidak biasa kita temui. Bukan yang kayak, “Bapak kamu tukang bunga ya? Pantesan anaknya cantik kayak bunga,” atau yang “Roses are red, violets are blue. My heart is full of love for you.” Bukan kayak gitu pokoknya.

Dilan, yang saya tidak belum tahu seperti apa dirinya di dalam novel, diperankan oleh Iqbaal Diafakhri. Pemberitahuan bahwa novel Dilan 1990 akan dibuat dalam bentuk film sangat menggemparkan, tetapi tidak sedikit yang kecewa bahwa Dilan diperankan oleh Iqbaal, terutama yang sudah membaca novelnya pasti lebih mengenal dan bisa memvisualisasikan Dilan sebagaimana mestinya.
Sedangkan lawan mainnya, Milea, diperankan oleh Vanesha Prescilla.

Film yang disutradarai oleh Fajar Bustomi ini diawali dengan sosok Milea dewasa yang sedang menceritakan masa SMAnya di laptop. Berlatarkan Bandung, Milea merupakan anak murid pindahan dari Jakarta. Pertemuan pertamanya dengan Dilan adalah saat pagi berangkat ke sekolah, Milea yang berjalan kaki dihampiri oleh Dilan yang mengendarai motor CB100. Dilan meramalkan bahwa nanti mereka akan bertemu di kantin.
Meskipun kenyataannya tidak.

Iqbaal, cowok yang lebih sering dikenal imut di luar film ini, harus berakting menjadi anak badung. Ke sekolah naik motor, tidak pakai helm pula (jaman dulu sekolah boleh bawa motor gak sih?), tergabung dalam geng motor dan merupakan panglima tempur. Itu lho, yang memimpin strategi tempur, kayaknya.

Setelah tragedi salah ramal, Piyan, teman satu geng Dilan, datang ke kelas Milea untuk menyampaikan surat yang ditulis Dilan—tetapi Piyan tidak mengatakan dari siapa surat itu dibuat. Hal tersebut terjadi ketika Nandan dan Rani menanyakan kesetujuan Milea untuk menjadi sekretaris kelas.

Nandan yang merupakan ketua kelas di kelas Milea, berkesempatan besar untuk mendekati Milea. Mulai dari menyusun denah tempat duduk sampai makan bersama di kantin sekolah.

Esok harinya, ketika Milea mencuci sepatu, Dilan datang bersama Piyan. Memberikan undangan, tetapi menyuruhnya untuk membacanya nanti. Isi undangan tersebut adalah mengundang Milea untuk datang ke sekolah di hari Senin sampai Sabtu. Dilampirkan pula nama Hamid Amidjaya, sang kepala sekolah.

Sampai di situ, Milea belum mengetahui nama Dilan.

Milea sendiri sebenarnya memiliki pacar di Jakarta, Beni namanya, yang diperankan oleh Brandon Salim. Dilan membuatkan sajak romantis buatannya sendiri, tetapi Beni membuatkan sajak romantis mencontek dari lagu ataupun puisi karya orang lain dari majalah.

Ketika upacara bendera, Milea baru mengetahui nama dari cowok yang dari kemarin mengirimkannya surat.
Dilan.
Ketika Dilan dan dua temannya diseret oleh Suripto, guru BP, karena tidak mengikuti upacara.

Dilan rela pulang sekolah naik angkot demi bersama Milea.
“Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore,”
Sejak itu, Dilan mulai mencintai Milea.

Suatu ketika, Dilan datang ke kelas Milea dan duduk di sampingnya. Meminta secarik kertas kemudian menuliskan lima nama orang yang menyukai Milea. Semua nama ditulis kecuali dirinya.

Hari demi hari, Dilan semakin gencar mendekati Milea. Bermodal nekat, tidak nekat juga sih karena mungkin karakter Dilan di sini adalah pemberani. Berbeda dengan Milea yang menurut saya tidak berkarakter, hem lebih kayak mengalir mengikuti plot cerita.

Rasa suka Milea mulai terbaca oleh Beni ketika cowok itu datang bersama teman-temannya ke rumah Milea untuk memberikan kejutan ulang tahun. Saya sempat ingin tertawa melihat dandanan Beni saat itu. Kemeja polos lengan panjang, celana jeans, dan rambut klimis. Lupa kalau ternyata latar filmnya 1990.

Nandan turut memberikan kado yakni boneka beruang besar yang katanya supaya bisa Milea peluk. Sedangkan orang yang ditunggu-tunggu Milea hanya memberikan buku teka-teki silang, yang covernya bergambarkan perempuan Jepang yang ditambahkan kumis dan jenggot di wajahnya kemudian terdapat bullets di sampingnya yang seolah menyampaikan pesan bahwa Dilan mengucapkan ulang tahun. Semua lembar teka-teki silang sudah diisi dengan Dilan, saat membolak-balik halaman, ada secarik kertas yang terjatuh.

Selamat uLAng tahun, Milea.
Ini hadiah untukmu, cuma tts.
Tapi sudah kuisi semua.
Aku sayang kamu
Aku tidak mau kamu pusing
karena harus mengisinya.

Setelahnya, alur cerita berjalan manis di antara Milea dan Dilan.
Datang waktunya Milea bertemu dengan Beni di Jakarta tepatnya di stasiun televisi TVRI sebagai tim pendukung sekolahnya dalam lomba cerdas cermat. Beni mendapati Milea sedang makan berdua dengan Nandan, padahal sebelumnya ada seorang temannya yang pamit ke toilet. Tetapi karena Beni pencemburu dan bersumbu pendek, ia marah dan berujung pada berakhirnya kisah cinta mereka.

Film mendekati waktu berakhir, tetapi saya belum juga menemukan titik klimaksnya. Apakah ketika Beni marah dan putus dengan Milea? Milea ingkar janji kepada Dilan untuk tidak pergi dengan Kang Adi? Sumpah, saya bukan orang satu-satunya yang bilang begitu. Saya beberapa kali melihat jam, memastikan bahwa film akan segera berakhir tetapi kok belum ‘dapet’. Akhirnya aku minta spoiler sama temen berhubung dia sudah baca novelnya.

Jadi di Dilan 1990 ini, mereka jadian. Pada 22 Desember 1990, di depan warung Bi Eem. Setelahnya, film habis. Tetapi bukan ending, karena masih ada Dilan 1991 dan Milea 199x (asli tidak tahu karena belum baca novelnya).

Keseluruhan, alurnya menyenangkan. Karena Dilan adalah sosok yang sangat mampu menghibur, mengingat beberapa kali kami tertawa terbahak-bahak satu teater. Meskipun sekali lagi, saya tidak menangkap adanya klimaks di sini. Mungkin karena ini ceritanya masih panjang, jadi klimaks bukan di bagian yang ini, mungkin di Dilan 1991 atau di Milea.

Chemistry di antara keduanya sangat kuat, senang lihatnya, meskipun yang cowok awalnya tidak diharapkan oleh banyak orang, tapi saya senang-senang saja.

Latar 1990, saya tidak tahu seperti apa. Saya sendiri lahir tahun 1998, mungkin satu tahun setelah Milea menikah. Tetapi dilihat dari rumah-rumah yang digunakan, settingannya cukup menjanjikan untuk memberi latar tahun tersebut. Kalau gedung sekolah, terlihat jelas itu bangunan lama. Menurut saya, biasanya kan kalau film lawas settingannya agak diberi efek vintage atau yang gelap-gelap gitu. Tetapi efek tersebut tidak nampak di film ini. Hanya saja ada telepon umum, motor CB100 yang digunakan Dilan dan motor jadul yang dibawa anggota geng motor, gaya berseragam murid, dan mobil-mobil yang sering terlihat di kamera terutama mobil yang digunakan Bunda Dilan dapat memberikan gambaran bahwa barang-barang tersebut berada di tahun 90an.

Dilan, bagi saya tidak buruk-buruk amat. Mungkin jabatan panglima tempur geng motor dan hobinya yang suka berantem yang mencoreng sifat baiknya. Menurut saya, dia cerdas. Kamarnya penuh dengan buku-buku dan ia juga dipilih menjadi salah satu peserta lomba cerdas cermat. Keberaniannya, mungkin jaman sekarang dikatakan kurang ajar. Ingat di saat Dilan mengambil barisan di samping Milea saat upacara bendera dan ditarik oleh Suripto. Yo, guys, jaman SMP, saya sangat sering melakukan hal tersebut, dan beruntungnya guru-guru tidak begitu peduli dengan anak-anaknya yang pikun ini.

“Siapapun dia, kalau tidak bisa menghargai orang lain, tidak akan dihargai,”
“Guru itu digugu dan ditiru,”

Aku langsung sedih, teringat ayahanda.
Mana ada murid yang berani mencaci gurunya pengecut? Hanya di film ini.

Ini pelajaran untuk kita semua, baik sebagai sosok murid ataupun guru. Amalkan selalu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Terlepas dari itu, hargailah orang lain kalau ingin dihargai. Semua dimulai dari diri sendiri.
#MulaiAjaDulu

Lah iklan.
Ia juga pandai dalam menyikapi cewek. Tidak seperti Anhar, yang dalam scene, sempat menampar Milea di warung Bi Eem dan mengakibatkan adu jotos dengan Dilan setelahnya.

Di dalam film ini juga melibatkan ahjussi ganteng yang seantero Bandung tahu, Bapak Ridwan Kamil. Pembuatan skenario film juga dibimbing langsung oleh ayah Pidi Baiq.

Saya senang pokoknya. Iya, soalnya saya suka-suka aja sama hal yang menye-menye kayak gini, sekadar untuk menghilangkan bosan. Lebih baik nonton film yang bisa buat ketawa daripada buat mikir, terutama di bioskop. Saya juga senang kalo dispoilerin, hahaha. Makanya ketika saya heran mikirin klimaks dan endingnya gimana, saya tanya teman yang sudah baca novelnya.

Ayo, nonton. Ajak semua keluarga kamu, teman, sahabat, dan lain-lain, tapi jangan ajak mantan, ya. Nanti kamu sedih, tragis, kalau kisah kamu sama kayak Dilan dan Milea di penghujung buku (iya, yang ini juga dikasih tahu sama teman).
Teman saya yang spoilerin itu, juga nonton bersama mantannya (iya dong, kan kami satu kumpulan hahaha). Di rumah, dia bilang sama saya, “Coba tadi aku buat instastory, tulis deh “Dia Dilanku 2011”

Kita tidak beda, Fa, saya sama pusingnya di tengah-tengah film membayangkan wajah Dilan yang memang mirip seseorang. Nyatanya ia pernah dipanggil dengan sebutan nama asli pemain Dilan saat ia SMA. 
Iya, sudah, begitu saja kok.

Terima kasih Dilan, telah membawa Bandung kembali untuk malam ini.

No comments:

Post a Comment

Prau 2565 1/2

Hallo. Selamat pagi menjelang siang. Ditulis dalam keadaan isolasi mandiri, terhitung sudah hari ke-enam dan sudah bingung mau apa. Sesung...